Aku sedang berdiri
Di depan sebuah pintu besar
Indah dan menawan rupanya
Bertuliskan kata "hati" diatasnya
Aku mencoba membukanya
Dengan berbagai kunci
Kasih sayang, cinta, kejujuran
Perjuangan, waktu, tenaga
Dan hal lainnya
Namun pintu itu masih bergeming
Aku mengetuknya
Namun hanya diam jawabnya
Aku ketuk lagi
Sekali lagi
Berkali - kali lagi
Hingga ku lelah dibuatnya
Mungkin ini soal waktu
Tentang siapa yang menunggu
Maka pintu akan terbuka
Maka ku putuskan tuk menunggu
Sehari, dua hari
Seminggu, tiga minggu
Sebulan dan akhirnya
Tahun - tahun pun berlalu
Aku mulai berpikir
Bahwa aku berada
Di pintu yang salah
Dengan tujuan yang juga salah
Saat ku hampir menyerah
Ku dengar langkah kaki
Samar tapi pasti
Mendekat kearah ku
Kulihat seseorang datang
Dengan jubah putih
Wajah bersinar terang
Terselip senyum dibibir-Nya
Orang itu berkata
"Kau telah lakukan bagianmu
Kini biarkan Aku
Mengerjakan bagian-Ku"
Orang itu mulai mendorong
Pintu besar tersebut
Hingga perlahan
Terbuka lebarlah pintu hati itu
Aku melangkah masuk
Bersama diri-Nya
Dan tinggal didalamnya
Sembari memberikan
Cinta kasih, kesetiaan,
Kejujuran, kepercayaan
Beserta semua hal lain
Yang dibutuhkan
Tuk tetap memanaskan
Hatimu
Malaikatku
Welcome To My Blog J
Selasa, 28 Maret 2017
Senin, 27 Maret 2017
Tak Ternilai
Kepercayaan itu mahal
Karena hati yang tersakiti
Tak lagi mudah percaya
Pada kata yang tak bisa digenggam
Kepercayaan itu tak bisa dibeli
Ketika hilang maka tak ada gantinya
Kau hanya bisa berharap
Diluar sana ada yang percaya padamu
Kau sendiri sekarang
Hampa bukan
Tanpa ada "percaya" padamu
Kau hanya bisa mengandalkan
Kebohongan yang telah mendarah daging
Pada tubuh yang kau diami
Bagaimana bisa
Kepercayaan yang kubangun
Dengan susah payah
Kau hancurkan begitu saja
Dengan ego yang menutup matamu
Membuatmu tak melihat
Diriku yang berjuang untukmu
Kepercayaan
Adalah komitmen
Dan kau berbicara tentang komitmen
Menjalani hari bersamaku
Tapi hatimu tak bersamaku
Aku berusaha mempertahankan
Namun kau belajar melepas
Aku berusaha agar kita bersama
Namun kau terus menjauh
Selalu dengan kebohongan yang sama
Lagi
Aku percaya
Masih percaya
Pada dirimu
Bisakah kau genggam tanganku
Berjuang bersamaku
Bersama kita bangun kembali
Kepercayaan yang tlah hilang
Dari hidup kita
Wahai malaikatku
Kamis, 23 Maret 2017
Sebuah Cerita
"Hei kawan, siapakah yang selalu menerangi kita disaat kegelapan mulai datang?" Tanya Kursi,
"Bukankah dia itu bernama lampu? Hei lampu bisakah kau mendengarku? "Tanya Meja, namun sang Lampu tak memberikan jawaban apapun. "Ah biarkan sajalah dia, dia itu sombong sekali, berkali - kali aku coba menyapanya tapi dia tak pernah membalas sapaan ku" Kata Lemari, "Tak baik kalian membicarakan dia seperti itu, mungkin dia punya alasan kenapa tak bisa menjawab kita" Kata Figura.
Pembicaraan mengenai lampu pun berhenti. Kursi, Meja, Lemari dan Figura memikirkan alasan kenapa lampu tak mau menyapa atau menjawab sapaan mereka. Gelap pun datang, Kursi, Meja, Lemari serta Figura pun mulai terlelap dalam tidurnya, namun disaat semua sudah tertidur ternyata Lampu sedang berusaha untuk membuka matanya. "Ah gelap sekali disini, sebaiknya ku berikan cahaya ku tuk terangi tempat ini" Kata Lampu, dan perlahan tempat itu seluruhnya telah diterangi cahaya. "Hei halo kalian semua, tampaknya kalian sehat selalu yah, andai saja kalian dapat membalas sapaan ku aku akan senang sekali, padahal yang ku butuhkan hanyalah sebuah teman tapi mengapa tak ada yang mau menemani ku dalam kegelapan ini?" Kata Lampu lagi. Namun sebenarnya Lampu tak pernah sendiri dalam Gelap, ada Jam yang senantiasa menemaninya walaupun Jam selalu saja sibuk dengan urusannya hingga tak mampu memperhatikan hal - hal disekitarnya. Lampu pun kembali menutup mata karena tak lama kemudian Terang mulai terlihat, Kursi, Meja, Lemari dan Figura mulai membuka mata dan saling menyapa juga bercakap - cakap tanpa menyadari bahwa dalam Gelap sang Lampu menyapa mereka. Sementara Jam tak mempedulikannya karena lagi - lagi terlalu sibuk dalam kerjaannya
"Bukankah dia itu bernama lampu? Hei lampu bisakah kau mendengarku? "Tanya Meja, namun sang Lampu tak memberikan jawaban apapun. "Ah biarkan sajalah dia, dia itu sombong sekali, berkali - kali aku coba menyapanya tapi dia tak pernah membalas sapaan ku" Kata Lemari, "Tak baik kalian membicarakan dia seperti itu, mungkin dia punya alasan kenapa tak bisa menjawab kita" Kata Figura.
Pembicaraan mengenai lampu pun berhenti. Kursi, Meja, Lemari dan Figura memikirkan alasan kenapa lampu tak mau menyapa atau menjawab sapaan mereka. Gelap pun datang, Kursi, Meja, Lemari serta Figura pun mulai terlelap dalam tidurnya, namun disaat semua sudah tertidur ternyata Lampu sedang berusaha untuk membuka matanya. "Ah gelap sekali disini, sebaiknya ku berikan cahaya ku tuk terangi tempat ini" Kata Lampu, dan perlahan tempat itu seluruhnya telah diterangi cahaya. "Hei halo kalian semua, tampaknya kalian sehat selalu yah, andai saja kalian dapat membalas sapaan ku aku akan senang sekali, padahal yang ku butuhkan hanyalah sebuah teman tapi mengapa tak ada yang mau menemani ku dalam kegelapan ini?" Kata Lampu lagi. Namun sebenarnya Lampu tak pernah sendiri dalam Gelap, ada Jam yang senantiasa menemaninya walaupun Jam selalu saja sibuk dengan urusannya hingga tak mampu memperhatikan hal - hal disekitarnya. Lampu pun kembali menutup mata karena tak lama kemudian Terang mulai terlihat, Kursi, Meja, Lemari dan Figura mulai membuka mata dan saling menyapa juga bercakap - cakap tanpa menyadari bahwa dalam Gelap sang Lampu menyapa mereka. Sementara Jam tak mempedulikannya karena lagi - lagi terlalu sibuk dalam kerjaannya
Hidup dan Semangat
Aku masih disini
Bernafas dan bahagia
Melewati hari dengan senyuman
Seakan tak ada masalah dalam hariku
Aku masih disini
Hidup dan bersemangat
Menjalani hari meski tanpamu
Karena aku tak peduli lagi tentangmu
Aku beranjak
Bergerak lewati arus
Menerjang ombak
Namun ku bahagia
Seakan kematian tak menyentuhku
Aku beranjak
Mendaki tebing curam
Lompat kedalam jurang
Namun ku hidup
Karena ku bahagia
Intinya
Tiada yang bisa hentikanmu
Selain dirimu sendiri
Tetap semangat jalani hari
Meski peluru menembus otakmu
Karena tak ada kematian
Tanpa kehidupan sebelumnya
Bernafas dan bahagia
Melewati hari dengan senyuman
Seakan tak ada masalah dalam hariku
Aku masih disini
Hidup dan bersemangat
Menjalani hari meski tanpamu
Karena aku tak peduli lagi tentangmu
Aku beranjak
Bergerak lewati arus
Menerjang ombak
Namun ku bahagia
Seakan kematian tak menyentuhku
Aku beranjak
Mendaki tebing curam
Lompat kedalam jurang
Namun ku hidup
Karena ku bahagia
Intinya
Tiada yang bisa hentikanmu
Selain dirimu sendiri
Tetap semangat jalani hari
Meski peluru menembus otakmu
Karena tak ada kematian
Tanpa kehidupan sebelumnya
Senin, 20 Maret 2017
Manusia Tanpa Sayap
Ingin ku terbang
Tinggi lewati awan
Membelah langit
Dengan sayapku
Membawamu serta
Dalam dekapku
Aku berlari
Membentangkan sayap
Berusaha mengejar mimpi
Jauh diatas sana
Namun aku terjatuh
Dan terus terjatuh
Sayapku terbakar
Dalam bara api
Api kebencian
Tiada tersisa dalam tubuh
Terkoyak lemah diriku
Meratapi mimpi itu
Maukah kau menjadi sayapku
Mendekapku dalam pelukmu
Membawaku serta dalam mimpimu
Menjadi yang terindah dalam hidupku
Lihatlah aku
Merangkak keluar
Dari persembunyianku
Tanpa sayap
Tanpa mimpi
Hanya kegilaan menetap
Dalam pikiranku
Jikalau kau tak bisa
Menjadi sayapku
Sanggupkah ku hidup
Dalam ketidakwarasan ini
Jikalau kau tak pelukku
Bisakah ku bertahan
Ditengah dinginnya malam
Yang kian menusuk
Bagai ribuan jarum
Aku tahu mimpi kita berbeda
Tapi aku percaya
Kita punya satu mimpi
Yang bisa kita bagi
Hingga tubuh ini
Kembali menjadi butiran debu lagi
Dan bila tak ada lagi
Dirinya dalam pikirmu
Maukah kau menjadi
Satu bagian terindah
Dalam hidupku
Melengkapiku
Di setiap bagian ku
Membantuku melewati hidup
Melewati kehidupan yang fana ini
Karena kini aku telah menjadi
Manusia tanpa sayap
Tinggi lewati awan
Membelah langit
Dengan sayapku
Membawamu serta
Dalam dekapku
Aku berlari
Membentangkan sayap
Berusaha mengejar mimpi
Jauh diatas sana
Namun aku terjatuh
Dan terus terjatuh
Sayapku terbakar
Dalam bara api
Api kebencian
Tiada tersisa dalam tubuh
Terkoyak lemah diriku
Meratapi mimpi itu
Maukah kau menjadi sayapku
Mendekapku dalam pelukmu
Membawaku serta dalam mimpimu
Menjadi yang terindah dalam hidupku
Lihatlah aku
Merangkak keluar
Dari persembunyianku
Tanpa sayap
Tanpa mimpi
Hanya kegilaan menetap
Dalam pikiranku
Jikalau kau tak bisa
Menjadi sayapku
Sanggupkah ku hidup
Dalam ketidakwarasan ini
Jikalau kau tak pelukku
Bisakah ku bertahan
Ditengah dinginnya malam
Yang kian menusuk
Bagai ribuan jarum
Aku tahu mimpi kita berbeda
Tapi aku percaya
Kita punya satu mimpi
Yang bisa kita bagi
Hingga tubuh ini
Kembali menjadi butiran debu lagi
Dan bila tak ada lagi
Dirinya dalam pikirmu
Maukah kau menjadi
Satu bagian terindah
Dalam hidupku
Melengkapiku
Di setiap bagian ku
Membantuku melewati hidup
Melewati kehidupan yang fana ini
Karena kini aku telah menjadi
Manusia tanpa sayap
Kamis, 16 Maret 2017
Selamat tinggal (?)
Aku tersesat
Dalam kesunyian
Hanya derap langkahku
Ku dengar jelas terasa
Mati
Raga ini seakan mati
Lelah dalam perjalanan ini
Ingin ku terlelap
Dalam balutan cahaya bintang
Yang semakin menghantui
Dibalik rasa sunyi ini
Biarkan aku berdamai
Pada bumi yang ku rusak
Dalam pandangan ku
Sebelum terlambat
Sebelum ku tenggelam
Dari rasa haus
Akan keberadaanmu
Angin berhembus pelan
Meninggalkan jejak pada dedaunan
Yang kemudian ku ikuti
Mengarahkan aku
Pada alunan musik
Diujung sana
Mimpikah aku
Apakah ini nyata
Aku mulai meragu
Namun ku tetap berlari
Hingga kutemukan dirimu
Terduduk diam
Dengan sebuah radio
Yang memutarkan musik yang sama
Berulang - ulang
Seperti kaset rusak
Aku sadar kau tak sendiri
Kau bersandar pada bahunya
Pada dia yang merusak dirimu
Meninggalkan aku
Hingga ku merasa aku tak pantas
Tak pantas dicinta
Ingin ku terjang dia
Dalam kesakitan yang kurasa
Karena membuatmu
Seperti boneka tali
Yang dikendalikan atas nama cinta
Namun aku mengurungkannya
Dan belajar tuk melupakan
Lupakan dirimu
Walau ingin ku bersamamu
Tapi apalah dayaku
Cintamu masih miliknya
Walau kau sadar dia menyakitimu
Kau tetap mencintai dia
Selamat tinggal
Cinta
Biarkan aku kembali
Tersesat dalam sunyi
Agar tak lagi sakit hatiku
Melihatmu dengannya
Dalam kesunyian
Hanya derap langkahku
Ku dengar jelas terasa
Mati
Raga ini seakan mati
Lelah dalam perjalanan ini
Ingin ku terlelap
Dalam balutan cahaya bintang
Yang semakin menghantui
Dibalik rasa sunyi ini
Biarkan aku berdamai
Pada bumi yang ku rusak
Dalam pandangan ku
Sebelum terlambat
Sebelum ku tenggelam
Dari rasa haus
Akan keberadaanmu
Angin berhembus pelan
Meninggalkan jejak pada dedaunan
Yang kemudian ku ikuti
Mengarahkan aku
Pada alunan musik
Diujung sana
Mimpikah aku
Apakah ini nyata
Aku mulai meragu
Namun ku tetap berlari
Hingga kutemukan dirimu
Terduduk diam
Dengan sebuah radio
Yang memutarkan musik yang sama
Berulang - ulang
Seperti kaset rusak
Aku sadar kau tak sendiri
Kau bersandar pada bahunya
Pada dia yang merusak dirimu
Meninggalkan aku
Hingga ku merasa aku tak pantas
Tak pantas dicinta
Ingin ku terjang dia
Dalam kesakitan yang kurasa
Karena membuatmu
Seperti boneka tali
Yang dikendalikan atas nama cinta
Namun aku mengurungkannya
Dan belajar tuk melupakan
Lupakan dirimu
Walau ingin ku bersamamu
Tapi apalah dayaku
Cintamu masih miliknya
Walau kau sadar dia menyakitimu
Kau tetap mencintai dia
Selamat tinggal
Cinta
Biarkan aku kembali
Tersesat dalam sunyi
Agar tak lagi sakit hatiku
Melihatmu dengannya
Senin, 06 Maret 2017
Manusia Ditengah Kebohongan
Aku bercerita
tentang apa yang kurasa
ketika semua menjadi terlalu gelap
kau memberikan cahaya dan terangiku
dalam kebohongan yang kau sembunyikan
Aku bercerita
tentang perasaan ini
meski ragu namun ku katakan jua
kau berkata semua baik
saat jatuh ku
namun terselip kebohongan didalamnya
Kau bercerita
tentang apa yang kau rasa
ketika aku mendengar
seakan tak ada salah didalamnya
seperti kebohongan itu telah mendarah daging
Kau bercerita
tentang perasaan itu
tanpa ragu kurasa
menguburku dalam, dalam jatuhku
menyatakan dusta yang terpendam
Kau mengatakan
Kau bercerita
Tiada bohong dalam kataku
Tiada bohong dalam kataku
agar tak sakit dirimu dalam dekapku
namun bukan aku yang menyakiti
hanya dirimu yang menyakiti
Aku ingin lepas
dalam kebohongan ini
tapi aku sadar
rasa sakit itu menghantuimu
mengikatmu dalam kegelapan
merangkak masuk semakin dalam,
dalam pikiranmu
menyakitimu tanpa kau tahu
Kalau kau memberi kesempatan
aku akan berusaha tuk membuka ikatanmu
menarikmu jauh dari kegelapan
memberikan kehangatan cinta
agar lepas dirimu dari sakit itu
agar tiada lagi sakit dalam hatimu
agar jernih sudah pikirmu dari kegalauan
Namun kau bertahan dalam kebohongan
yang kau ciptakan
agar ku tak melangkah masuk semakin dalam
semakin membuka hatimu
karena masih tersimpan rasa cinta untuknya kurasa
dan sekali lagi
kau bertahan dalam kebohongan itu
Label:
Cinta,
harapan,
Patah Hati,
Puisi,
Renungan
Langganan:
Postingan (Atom)