Nafas terengah - engah
Keringat dingin membasahi tubuh
Mataku tak percaya apa yang dilihat
Seorang malaikat tlah jatuh
Dari awan yang membawanya terbang
Cantik, Indah dan Menawan
Begitu mempesona
Tak berdaya ku dibuatnya
Hanya melihatnya membuatku luluh
Diajaknya aku pergi
Pada dunia gemerlap diluar sana
Memberikanku kehangatan
Ditengah dinginnya malam
Digenggamnya tanganku
Bercerita tentang banyak hal
Berbagi rasa dalam kehambaran
Hambarnya hidupku
Nyamanku dibuatnya
Dengan setiap belaian tangannya
Pada tubuhku yang rapuh ini
Membuat tegar dalam keputusaanku
Percayalah
Kau tak'kan mengerti rasanya
Mencintai dirinya yang begitu sempurna
Tak ternilai rasanya memilikinya
Ketika hari berganti bulan
Ketika bulan berganti tahun
Api cinta ini mulai padam
Tak lagi panas tak lagi bergairah
Kurasakan dirinya berbeda
Tak lagi sama
Semakin egois
Semakin hilang kendali
Terpaku dengan dunianya dulu
Ternyata dia ingin kembali
Pada nyamannya langit biru
Pada lembutnya awan putih
Pada pelangi setelah hujan
Katanya ku hanya sementara
Katanya ku tak bisa bersamanya
Katanya ku hanya batu pijakan
Agar dia bisa kembali
Pada dunianya yang sempurna
Ternyata aku hanya pelarian
Dari ego dirinya
Yang ingin menikmati dunia ini
Menemaninya agar tak kesepian
Dan sekarang semua sirna
Yang tersisa hanyalah hati yang hampa
Tak lagi sempurna
Tak lagi bernyawa
Meninggalkan kehancuran
Yang kemudian berubah menjadi amarah
Perasaan ingin mengejarnya
Mengikatnya lagi dalam gairahku
Kini ku tersesat dalam keambiguan
Ingin ku melangkah maju
Namun terlalu remuk hati ini
Membuat kaki ini tak lagi ingin melangkah
Aku terjatuh
Pada lubang dalam
Bernama keputusasaan
Karena seorang malaikat
Malaikat tanpa hati
Membuatku tenggelam
Dalam lubang itu
Pada kenyataan semu
Yang membuatku tak lagi hidup
Dan inilah nafas terakhirku.....
Begitu mempesona
Tak berdaya ku dibuatnya
Hanya melihatnya membuatku luluh
Diajaknya aku pergi
Pada dunia gemerlap diluar sana
Memberikanku kehangatan
Ditengah dinginnya malam
Digenggamnya tanganku
Bercerita tentang banyak hal
Berbagi rasa dalam kehambaran
Hambarnya hidupku
Nyamanku dibuatnya
Dengan setiap belaian tangannya
Pada tubuhku yang rapuh ini
Membuat tegar dalam keputusaanku
Percayalah
Kau tak'kan mengerti rasanya
Mencintai dirinya yang begitu sempurna
Tak ternilai rasanya memilikinya
Ketika hari berganti bulan
Ketika bulan berganti tahun
Api cinta ini mulai padam
Tak lagi panas tak lagi bergairah
Kurasakan dirinya berbeda
Tak lagi sama
Semakin egois
Semakin hilang kendali
Terpaku dengan dunianya dulu
Ternyata dia ingin kembali
Pada nyamannya langit biru
Pada lembutnya awan putih
Pada pelangi setelah hujan
Katanya ku hanya sementara
Katanya ku tak bisa bersamanya
Katanya ku hanya batu pijakan
Agar dia bisa kembali
Pada dunianya yang sempurna
Ternyata aku hanya pelarian
Dari ego dirinya
Yang ingin menikmati dunia ini
Menemaninya agar tak kesepian
Dan sekarang semua sirna
Yang tersisa hanyalah hati yang hampa
Tak lagi sempurna
Tak lagi bernyawa
Meninggalkan kehancuran
Yang kemudian berubah menjadi amarah
Perasaan ingin mengejarnya
Mengikatnya lagi dalam gairahku
Kini ku tersesat dalam keambiguan
Ingin ku melangkah maju
Namun terlalu remuk hati ini
Membuat kaki ini tak lagi ingin melangkah
Aku terjatuh
Pada lubang dalam
Bernama keputusasaan
Karena seorang malaikat
Malaikat tanpa hati
Membuatku tenggelam
Dalam lubang itu
Pada kenyataan semu
Yang membuatku tak lagi hidup
Dan inilah nafas terakhirku.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar